SMP NEGERI 1 TANJUNGPINANG MELAJU KE KANCAH NASIONAL

Minggu, 4 Agustus 2019 SMP Negeri 1 Tanjungpinang kembali memecahkan rekor. Dibawah bimbingan ibu Eva Widarsih selaku guru IPS di SMP Negeri 1 Tanjungpinang, tiga siswa SMP Negeri 1 Tanjungpinang berhasil meraih juara 1 lomba cerdas cermat mengenai Museum dan Kebudayaan. Afiqah Nepa Maharani Hasibuan, Nasywa Nadila, dan Ferdiand Barends Halomoan Sihaloho berhasil mengalahkan 30 peserta lainnya. Ini untuk yang pertama kalinya SMP Negeri 1 Tanjungpinang mengikuti lomba cerdas cermat ini, dan berhasil maju ke tingkat nasional.

SMP Negeri 1 Tanjungpinang mengirim 2 tim dalam pertandingan ini. Tim 1 yang berhasil maju ke tingkat nasional, sedangkan tim 2 yang beranggotakan Miftah Azis, Farrael, dan Tatiya berhasil masuk ke 5 besar.

Ketiga pemenang didampingi guru pendamping mereka akan berangkat ke Jakarta pada tanggal 9-13 Oktober 2019 dan kembali bertanding melawan 33 provinsi lainnya.

SMP Negeri 1 Tanjungpinang Meraih Juara 2 Dalam Ajang Lomba Membaca Puisi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang melalui Museum Kota Tanjungpinang Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tanggal 27-28 Juli 2019. Seluruh SMP di Kota Tanjungpinang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tidak hanya bagi siswa SMP, tetapi juga ada siswa SD se-Kota Tanjungpinang. Selain puisi, ada juga lomba mendongeng tingkat SD dan SMP se-Kota Tanjungpinang.

Dengan membawakan puisi berjudul ‘Tanah Air Mata’ karya Sutardji Calzoum Bachri, Delvita Army Tania, berhasil mengalahkan 14 pesaing lainnya. Ia berhasil membawa pulang satu Tropi dengan menduduki posisi kedua setelah melalui persaingan yang cukup ketat.

Pelaksanaan Workshop Revisi KTSP Berjalan dengan Lancar

Guru Hebat, Guru Bermartabat Guru yang Mengacu pada Perangkat merupakan tema yang diangkat kali ini saat pelaksanaan Workshop Revisi KTSP di SMP Negeri 1 Tanjungpinang yang pada kesempatan ini dibuka secara resmi oleh Bapak Drs. H. Edy Sarwito selaku Pengawas SMP dari Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.

Kurikulum 2013 telah diimplementasikan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014. Untuk mencapai kesempurnaan kurikulum 2013 pemerintah telah melaksanakan revisi pada setiap tahunnya . SMP Negeri 1 Tanjungpinang  merupakan salah satu sekolah yang pertama kali ditunjuk untuk mengimplementasikan kurikulum 2013.

Seiring dengan berjalannya proses pembelajaran berbasis kurikulum 2013, masih ada kendala yang dihadapi oleh para tenaga pendidik  . Apalagi  dengan adanya mutasi guru dari sekolah yang belum melaksanakan kurikulum 2013 dan  juga tenaga pendidik  yang baru diangkat menjadi CPNS. Kendala tersebut berupa rendahnya tingkat pemaham tentang silabus, menyusun RPP, menentukan KKM dan juga sistem penilaian hingga penggunaan e-raport.

Berdasarkan Permendikbud No 15 tahun 2018, guru sebagai pendidik harus bisa memenuhi beban kerjanya dan menjadi seorang pendidik yang professional untuk kemajuan pendidikan. Oleh sebab itu, sesuai dengan program kurikulum SMP Negeri 1 , maka diadakan kegiatan “Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Tahun Pelajaran 2019/2020”

Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Tahun Pelajaran 2019/2020, dilakukan dengan tujuan agar pendidik  dan tenaga pendidik :

  1. Mendapatkan penguatan dan pengertian yang jelas  tentang silabus.
  2. Menganalisis silabus dan buku siswa/buku guru .
  3. Menyusun Prota dan Prosem
  4. Menentukan KKM
  5. Menyempurnakan  KTSP
  6. Membuat RPP
  7. Membuat Rencana Penilaian E-Rapor

Workshop dilaksanakan selama 6 ( enam ) hari di SMP Negeri 1 Tanjungpinang yang dimulai dari hari Sabtu Tanggal 20 Juli 2019 sampai hari Jumat tanggal 26 Juli 2019 yang diikuti oleh Pendidik  sebanyak  36 orang dan tenaga Pendidik sebanyak  8 orang.

Sasaran dari kegiatan worshop penyusunan Perangkat Pembelajaran  ini adalah pada Tahun Pelajaran 2019/2020 ini seluruh tenaga pendidk sudah dapat menerapkan dalam proses belajar mengajar menggunakan perangkat tersebut.

Kegiatan PRA PLS SMP Negeri 1 Tanjungpinang Berlangsung Meriah

SMP Negeri 1 Tanjungpinang menggelar kegiatan pra PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) pada Sabtu, 13 Juli 2019 di aula SMP Negeri 1 Tanjungpinang. Kegiatan ini diadakan dengan tujuan agar siswa/siswi yang baru bergabung dengan keluarga besar SMP Negeri 1 Tanjungpinang mampu mempersiapkan segala kebutuhan untuk PLS. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kepada siswa peraturan-peraturan dasar yang ada di SMP Negeri 1 Tanjungpinang.

Kegiatan ini disampaikan kepada peserta didik baru dari panitia PLS dan pengurus OSIS SMP Negeri 1 Tanjungpinang. Peserta didik yang baru bergabung di SMP Negeri 1 Tanjungpinang berjumlah 160 orang. Kegiatan ini diwarnai dengan seragam yang berwarna-warni dari berbagai SD. Seluruh peserta didik baru menyimak dengan baik setiap informasi yang disampaikan oleh panitia. Begitupun dengan beberapa wali murid yang mendampingi anaknya.

Syarat dan Ketentuan Daftar Ulang Calon Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2019/2020

Diberitahukan kepada calon peserta didik yang dinyatakan lulus seleksi PPDB tahun Pelajaran 2019/2020 di SMPN 1 Tanjungpinang agar dapat melakukan pendaftaran ulang pada :
Hari : Senin – Selasa
Tanggal : 8 – 9 Juli 2019
Tempat : Aula SMP N 1 Tanjungpinang
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB

Melengkapi persyaratan sebagai berikut :
1. Fotocopy Kartu Keluarga
2. Fotocopy Akte Kelahiran
3. Fotocopy NISN
4. Fotocopy Surat Keterangan Kelulusan dari Sekolah
5. Surat Keterangan Mengaji
6. Mengisi Formulir Dapodik
7. Mengisi Surat Pernyataan
8. Melampirkan Ukuran :
✓ Baju
✓ Celana atau Rok
✓ Sepatu
9. Melampirkan Pasfoto 3 x 4 cm 4 lembar
10. Map untuk zonasi:
✓ Biru = laki – laki
✓ Merah = perempuan
11. Map untuk prestasi dan pindah orang tua :
✓ Hijau = prestasi
✓ Kuning = pindah orang tua

*NB : Calon siswa yang diterima dalam jalur zonasi pada radius 56 – 661 Meter

Pesantren Solusi Dekadensi Moral

Bangsa Indonesia sedang berada pada posisi yang sangat rapuh. Berbagai permasalahan kian menjamur mengotori bangsa ini. Hal ini disebabkan oleh kondisi moral etika bangsa ini yang semakin jelas terlihat ketika persoalan demi persoalan bangsa semakin hari semakin sulit untuk diselesaikan, namun justru semakin tajam. Mulai dari kasus ketidakadilan hukum, kekerasan dan perbuatan korupsi yang semakin membudaya. Menurut data Indonesia Corruption Watch (ICW) tercatat 454 kasus kasus korupsi tahun 2018 dengan jumlah kerugian Negara sebesar Rp 5,6 triliun.

Penyebab rusaknya moral bangsa ini adalah pengaruh budaya luar, kurangnya penanaman nilai-nilai agama dan sistem pendidikan yang identik hanya menanamkan nilai-nilai pengetahuan saja. Sebab, sistem pendidikan ini sangat berpengaruh terhadap benteng pengaruh budaya luar serta kunci peningkatan nilai-nilai agama.

Namun, upaya pembaharuan sistem pendidikan yang terus dilakukan tidak kunjung datang untuk memperbaiki masalah moral yang dihadapi bangsa ini pendidikan yang diterapkan saat ini masih menitikberatkan kepada nilai pengetahuan tanpa disertai dengan moral yang baik, hal tersebut akan memberikan dampak yang buruk bagi bangsa ini. Oleh karena itu, perlulah sebuah pendidikan yang tepat mencakup keduanya. Sehingga tidak hanya ilmu pengetahuan yang dikuasai, namun juga pengendalian moral yang baik Pesantren merupakan sebagai salah satu solusi terbaik mengapa?

Sistem nilai yang berkembang di pesantren memiliki ciri dan perwatakan sendiri, yang sering memberikan watak sub-kultural kepada kehidupan itu sendiri salah satunya dengan cara memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai ibadat. Semenjak pertama kali memasuki kehidupan pesantren, seorang santri sudah diperkenalkan kepada dunianya sendiri, dimana peribadatan menempati kedudukan tertinggi. Mulai dari pola penggunaan waktu secara tersendiri dalam kehidupan sehari-hari yang mengikuti pola waktu bersembahyang lima kali sehari.

Selain itu, watak mandiri yang berkembang di pesantren dapat dilihat baik dalam sistem pendidikan atau pandangan hidup yang ditimbulkannya dalam diri santri. dibuktikan dengan kesediaanya untuk tinggal di pesantren dengan keadaan fisik yang kurang menyenangkan, ketersediaan bekal habis serta kesukaran kesukaran lainnya yang membebani santri. semua masalah tersebut dapat di tangguhkan karena kesadaran bahwa pesantren adalah “alat perjuangan” agama yang dapat merubah wajah moral di masyarakat disekitarnya.

Prinsip pesantren yang tidak memandang starata sosial mampu memberikan nilai plus. sehingga, tidak ada perbedaan diantara santri dengan santri lainnya hal tersebut ,memberikan dampak terhadap terjalinnya sikap interaksi sosial dan solidaritas yang tinggi.

Seiring perkembangan zaman bahwa pesantren ini tidak hanya identik dengan pengajaran agama saja melainkan, terdapatnya pengetahuan-pengetahuan umum yang disediakan di sekolah-sekolah lingkungan pesantren.selain itu, pesantren juga dapat berfungsi mengurangi kemiskinan ekonomi dengan memupuk jiwa wirausaha. hal tersebut disampaikan oleh mentri perindustrian , Airlangga Hartarto menuturkan, santri masa kini dituntut tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berwirausaha . pengetahuan umum yang dihasilkan dari perwujudan sekolah mampu memberikan kepercayan terhadap seorang santri., pengendalian moral yang tumbuh dari perwujudan pesantren dapat memberikan benteng kuat dalam menghadapi era modernisasi ini. teringat dengan perkataan seorang pelawak terkenal kasino” negara ini tidak kurang orang pintar tapi kurang orang yang jujur”

Adanya keselarasan Antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan dengan pengamalan sesuai di dalam kehidupan mendedikasikan bahwa pesantren merupakan sebuah solusi terbaik dekadensi moral yang terjadi di bangsa ini.

Pendidikan di Sana, Di Mata Mereka

Pendidikan adalah hal yang penting, entah itu untuk laki-laki maupun perempuan. Sering terdengar kalimat, ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga di dapur sama kasur juga. Why ? Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu yang tahu akan ilmu akan mendidik anaknya dengan baik-diikuti dengan pengetahuan serta akhlak.

Miris memang. Sampai sekarang pun ibu saya masih di berikan dengan pernyataan seperti itu. Mamah hanya punya 2 anak, dua duanya perempuan dan alhamdulillah kuliah. I want to say, my parents are the best person. Why ?

Jadi, orangtuaku itu besar di daerah yang pedaleman. Akses sekolah susah banget. Bahkan bisa SMA aja adalah hal yang sangat sangat luar biasa akses dan biaya. Jadi rata-rata mereka hanya lulus SD, trus merantau ke kota. Jadi kalo lulus SMP itu bagus, kalo SMA itu wah bagus banget, anak orang kaya ini pasti.

Pola pikir masyarakat disana akan pentingnya pendidikan masih sangat sangat sangat belum paham. Tapi, orangtuaku tuh alhamdulillah banget mendukung anak anaknya sekolah, walaupun kami perempuan. Salut sama pemikiran papah mamah.

Pendidikan adalah hal yang penting, entah itu untuk laki-laki maupun perempuan. Sering terdengar kalimat, ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga di dapur sama kasur juga. Why ? Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu yang tahu akan ilmu akan mendidik anaknya dengan baik-diikuti dengan pengetahuan serta akhlak.

Miris memang. Sampai sekarang pun ibu saya masih di berikan dengan pernyataan seperti itu. Mamah hanya punya 2 anak, dua duanya perempuan dan alhamdulillah kuliah. I want to say, my parents are the best person. Why ?

Jadi, orangtuaku itu besar di daerah yang pedaleman. Akses sekolah susah banget. Bahkan bisa SMA aja adalah hal yang sangat sangat luar biasa akses dan biaya. Jadi rata-rata mereka hanya lulus SD, trus merantau ke kota. Jadi kalo lulus SMP itu bagus, kalo SMA itu wah bagus banget, anak orang kaya ini pasti.

Pola pikir masyarakat disana akan pentingnya pendidikan masih sangat sangat sangat belum paham. Tapi, orangtuaku tuh alhamdulillah banget mendukung anak anaknya sekolah, walaupun kami perempuan. Salut sama pemikiran papah mamah.

Kenapa saya bilang begitu ? Karena sampai saat ini, di daerah kampung saya pun masih ada, bahkan banyak yang belum paham akan pentingnya pendidikan. Satu, orang tua mampu, oke mampu disini maksudnya gak melulu finansial tapi mampu mau menyekolahkan anak, tapiii anaknya enggak mau sekolah.

Kebayangkan, gimana kalau cowo yang hanya lulus SD, orang tuanya mau sekolahin tapi anaknya gak mau. Gimana nanti kalo dia nikah ? Kasian anak istri. Yang kedua, anaknya mau sekolah tapi orang tuanya enggak mau ngebiayain. Sedih. Ini saya sering denger cerita dari mamah tentang temen-temen mamah yang dikampung, soal anaknya yang gak mau sekolah padahal ortunya pingin banget dan sebaliknya.

Daerah kampung saya terkenal sama anak anak yang jago main volley. Pas saya SMP disana, ya volley adalah olahraga favorit bagi mereka. Apadaya saya yang gak bisa main haha bola gak mantul tapi tangan udah merah-merah.

Jadi, ada SMA terdekat (guys jangan bayangin terdekat kaya di kota ya), iya SMA itu ngasih beasiswa ke anak yang berprestasi volley, tapi apadaya, anaknya gak mau sekolah. Sedih, pas kasus ini cowo loh. Padahal, thats a good opportunity !. Kalo saya jadi dia saya mah nerima bangeeeetttt !!!. Kata mamah papah saya, kan hanya ngeluarin buat seragam sama ongkos, sayang bangeeettt.

Saya belom ngerti sih alasan mereka gak mau lanjut pendidikan kenapa. Gemes kadang. Sampe mikir, emang belom ada penyuluhan akan pentingnya pendidikan ?. Belom saya tinjau sejauh itu sih hanya nerka aja, saya gak kenal petinggi di kampung saya soalnya haha :’).

Katanya dulu ada anak KKN, tapi gak ngerti ngerjain apa aja. Saya hidupnya gak disana, tapi sempet lah ngerasain SMP disana yang jalan kaki ke sekolah 3KM, bolak balik jadi 6KM. Itu jauh gak sih ? Sombong

Pendidikan itu penting banget. Bukan hanya soal nyari kerja, tapi ilmu itu emang penting buat kehidupan kalian. Seenggaknya masuk aja deh buat sekolah, jangan nyerah sebelom berjuang. Gak usah maksa buat pinter, seenggaknya masuk kelas, mau gak mau juga kalian harus maksa denger guru ngomong apaan.

Jujur emang, nyari kerja susah. Apalagi hanya lulus SD, bah ! . Yang lulus SMA aja harus punya sikil (skill maksud sayaaa), ya minimal bawa motor sama mainin komputer, excel sama word lah minimal lah.

Pernah ngajak sodara buat nerusin sekolah, paket juga gak apa apa. Dan jawabannya, males mikir. Cerita lah ke mamah, kata mamah : yaudalah ka, kalo jawabannya males mikir mah mau gimana lagi, udah mentok itu jawaban.

Padahal saya ngajak mereka yang notabene lagi kerja di kota, dimana akses buat sekolah gak susah susah amat kaya di desa. Apalagi sekolah macem KBM yang gratisss.. iya sekolah kejar paket.

Buat kalian yang masih sekolah dan orangtua dukung, hargai waktu kalian disekolah. Banyak disana yang sulit mendapatkan dan mau sekolah. :””’).

Gonjang-ganjing, Tepatkah PPDB Sistem Zonasi Diterapkan Saat Ini?

Setelah sekian lama pendidikan tidak terdengar kabar rimbanya, kini isu ini justru menjadi perbincangan di khalayak ramai. Televisi dan berbagai surat kabar memberitakan masalah pendidikan yang satu ini. Betul, sistem zonasi menarik banyak perhatian masyarakat untuk menyaksikan, mengkaji, dan tidak sedikit pula yang mencacinya.

Sistem yang sudah diterapkan sekitar tiga tahun lalu ini sejak kemunculannya sendiri memang telah menuai banyak kontroversi. Problem utama yang disesalkan terutama oleh orang tua murid adalah hak mereka untuk memilih sekolah idaman menjadi kandas.

Pasalnya lewat sistem zonasi, lokasi sekolah anak akan diutamakan supaya dekat dengan rumahnya. Dalam aturannya sistem zonasi ini tidaklah menjadi jalur utama untuk masuk ke suatu sekolah, ada juga kuota bagi siswa berprestasi dan tidak mampu yang presentasenya lebih sedikit.

Alasan selanjutnya dari hilangnya kesempatan untuk memilih sekolah idaman karena terganjal zonasi adalah lunturnya semangat para siswa untuk belajar dan meraih nilai tinggi khususnya dalam ujian nasional. Hal ini lagi-lagi bermuara pada sistem zonasi, karena dampaknya banyak dari siswa menjadi malas belajar. Beberapa diantaranya mengatakan begini “Buat apa capek belajar ngejar nilai tinggi, nggak akan bisa kepake buat masuk sekolah favorit”.

Tidak heran jika banyak orang tua murid yang lantas murka pada pemberlakuan sistem zonasi ini. Harapan mereka sebagai orang tua jelas menginginkan anaknya masuk ke sekolah dengan fasilitas yang mumpuni serta sudah dibuktikan dengan lulusan-lulusannya banyak yang sukses. Sebetulnya itu wajar-wajar saja ada dalam benak orang tua siswa.

Kemendikbud dalam kasus ini tentu mendapat pukulan telak sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam kekisruhan yang sekarang terjadi. Beragam kritik pedas terhujam padanya. Banyak yang menilai bahwa sistem ini masih terlalu prematur untuk diterapkan. Masih perlu dipersiapkan hal-hal lain sebelum sistem zonasi dapat dengan mudah akhirnya diterima oleh masyarakat.

Satu hal yang membuat sistem ini dipandang terburu-buru diterapkan adalah karena tidak disesuaikan dengan kualitas tiap sekolah yang merata. Masih ada kesenjangan antara sekolah yang sudah di cap favorit dan sekolah kelas biasa. Baik itu dari segi pendidik, ekstrakurikuler maupun fasilitas penunjang lainnya. Maka tak heran stempel “prematur” disematkan pada sistem zonasi.

Pemerintah, dalam hal ini kemendikbud justru memberi alasan sebaliknya. Muhadjir Effendy selaku menteri mengatakan bahwa dengan penerapan sistem zonasi malahan kualitas pendidikan di suatu daerah itu akan ketahuan mana yang sudah bagus dan mana yang belum, dan dengan begitu pemerintah juga akan lebih mudah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lokasi-lokasi yang masih rendah kualitasnya. Singkatnya dengan sistem ini diharapkan akan mampu memetakan dan menyamaratakan kualitas pendidikan.

Secara tujuan jelas sistem zonasi ini cukup futuristik. Mencoba menghilangkan era sekolah favorit dan coba menggantinya dengan kualitas semua sekolah sama. Namun dalam prakteknya tidak sedikit ditemukan banyak sekali kelemahan dan bahkan tindak kecurangan yang banyak kita baca seperti pemalsuan tempat tinggal dan SKTM.

Baiklah, saya akan tutup artikel ini dengan pertanyaan, benarkah sistem zonasi jika diterapkan “saat ini” akan membuat hilang cap sekolah favorit? Apakah tidak ada selain sistem zonasi? Bukankah ada sistem evaluasi kualitas pendidikan? Lalu mengapa hasil evaluasi itu tidak bisa membuat pemerintah memperbaiki dan menyamaratakan kualitas pendidikan?

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Peradaban Bangsa

Pendidikan adalah hal yang sangat dianggap penting di dunia, karena dunia butuh akan orang-orang yang berpendidikan agar dapat membangun Negara yang maju. Tapi selain itu karakter pun sangat diutamakan karena orang-orang pada zaman ini tidak hanya melihat pada betapa tinggi pendidikan ataupun gelar yang telah ia raih, melainkan juga pada karakter dari pribadi dari setiap orang.

Proses pendidikan di sekolah masih banyak yang mementingkan aspek kognitifnya ketimbang psikomotoriknya, masih banyak guru-guru di setiap sekolah yang hanya asal mengajar saja agar terlihat formalitasnya, tanpa mengajarkan bagaimana etika-etika yang baik yang harus dilakukan.

Di dalam buku tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Maka terpikirlah oleh para cerdik pandai tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Banyak pilarkarakter yang harus kita tanamkan kepada anak – anak penerus bangsa, diantaranya adalah kejujuran, yah kejujuran adalah hal yang paling pertama harus kita tanamkan pada diri kita maupun anak – anak penerus bangsa karena kejujuran adalah benteng dari semuanya, Demikian juga ada pilarkarakter tentang keadilan, karena seperti yang dapat kita lihat banyak sekali ketidakadilan khususnya di Negara ini. Selain itu harus ditanamkan juga pilarkarakter seperti rasa hormat. Hormat kepada siapapun itu, contohnya adik kelas mempunyai rasa hormat kepada kakak kelasnya, dan kakak kelasnya pun menyayangi adik – adik kelasnya, begitu juga dengan teman seangkatan rasa saling menghargai harus ada dalam diri setiap murid – murid agar terciptanya dunia pendidikan yang tidak ramai akan tawuran.

Sekarang mulai banyak sekolah – sekolah di Indonesia yang mengajarkan pendidikan karakter menjadi mata pelajaran khusus di sekolah tersebut. Mereka diajarkan bagaimana cara bersifat terhadap orang tua, guru –guru ataupun lingkungan tempat hidup.

Mudah – mudahan dengan diterapkannnya pendidikan karakter di sekolah semua potensi kecerdasan anak –anak akan dilandisi oleh karakter – karakter yang dapat membawa mereka menjadi orang – orang yang diharapkan sebagai penerus bangsa. Bebas dari korupsi, ketidakadilan dan lainnya. Dan makin menjadi bangsa yang berpegang teguh kepada karakter yang kuat dan beradab. Walaupun mendidik karakter tidak semudah membalikan telapak tangan, oleh karena itu ajarkanlah kepada anak bangsa pendidikan karakter sejak saat ini.