SMP Negeri 1 Tanjungpinang gelar Workshop revisi KTSP

Dalam rangka mempersiapkan semua elemen dalam menghadapi Tahun Pelajaran 2020-2021,  serangkaian kegiatan telah selesai dilaksanakan oleh SMPN 1 Tanjungpinang, mulai dari Penerimaan Peserta Didik Baru, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan pelaksanaan berbagai Workshop.

Seperti pada tahun sebelumnya SMPN 1 Tanjungpinang selalu melaksanakan kegiatan workshop untuk meningkatkan kualitas kemampuan guru, untuk tahun ini SMPN 1 Tanjungpinang juga melaksanakan kegiatan workshop revisi KTSP yang akan dilaksankan selama lima (5) hari, dimulai hari Selasa, 01 September 2020 sampai dengan hari Sabtu, 5 September 2020. Materi workshop tahun ini dimulai dengan pembukaan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Tanjungpinang, Penilaian Sikap oleh Pengawas sekolah Bapak Drs. H. Edi Sarwito dan selanjutnya materi Analisis Silabus dan Buku Siswa oleh Ibu Yusdalipa, S.Pd Mat. Selanjutnya pada hari kedua dengan materi Menyusun Prota dan Prosem dan membuat KKM oleh Ibu Yusdalipa S.Pd Mat. Kemudian pada hari ketiga dengan materi menyusun RPP oleh Bapak Said Mukhlis, S.Pd dan untuk hari keempat dengan materi Perencanaan Penilaian E-Rapor oleh Bapak Tribowo Nugroho, S. Kom serta pada hari terakhir diisi dengan materi Revisi KTSP dan Penutupan oleh Kepala sekolah SMPN 1 Tanjungpinang Ibu Tri Elis Setiyowati, S. Pd, M.M.

Kegiatan workshop penyusunan kurikulum ini diikuti oleh semua guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling dengan memperhatikan protokol kesehatan Covid-19 dengan harapan nantinya setelah pelaksanaan workshop ini dilaksanakan, akan tercipta kurikulum sekolah yang ideal dan efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran di Tahun Pelajaran 2020-2021 dalam menjalankan New Normal atau kebiasaan baru yang dicanangkan oleh pemerintah.

Secara keseluruhan, semoga rangkaian workshop ini akan lebih meningkatkan kualitas kemampuan guru dalam pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan dan dapat pula meningkatkan pelayanan sekolah kepada siswa dan orangtua, serta semua pihak yang berkaitan dengan proses pembelajaran di SMPN 1 Tanjungpinang.

Informasi Kelulusan SMPN 1 Tanjungpinang Tahun Pelajaran 2019/2020

AssalamualaikumWr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua

Dear ananda
Selamat atas kelulusanmu hari ini…
Selamat jalan, selamat menempuh pendididkan ke jenjang yang lebih tinggi.
semoga ananda selalu dapat menjaga nama almamater sekolah, nama orang tuamu dan namamu sendiri.
Dear ananda yang ibu sayangi…
Pengumuman kelulusan tahun ini berbeda dari tahun tahun sebelumnya, ananda tidak perlu datang ke sekolah untuk melihat informasi kelulusan cukup dari rumah saja dengan membuka halaman web ini

Tidak ada perpisahan, karena sejatinya kita tidak pernah terpisah sampai kapanpun kalian tetap terhubung dengan almamater sekolah ini. Kami hanya melepaskanmu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.

Untuk bekal kalian meneruskan ke jenjang berikutnya, sementara ini kalian akan diberikan Surat Ketetangan Lulus dan surat keterangan berkelakuan baik yang dapat diambil di sekolah dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Telah mengembalikan buku perpustakaan dibuktikan dengan surat bebas perpustakaan (surat bebas perpustakaan pengambilannya terjadwal).
    Note: Bagi kelas 9 yang sudah mengembalikan buku dan belum memiliki kartu bebas pustaka agar dapat kembali mengambil surat bebas pustaka terlebih dahulu untuk mengambil surat keterangan lulus
  2. Menggunakan pakaian yang sopan dan memakai sepatu.
  3. Wajib menggunakan masker.
  4. Tidak boleh berkerumun. ikuti antrian yang diatur petugas.
  5. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki ruangan di tempat yang telah disediakan.
  6. Jadwal pengambilan Surat Keterangan Lulus
    [table id=3 /]

Demikian yang dapat ibu sampaikan sekali lagi selamat dan sukses untuk ananda semuanya
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Berikut ini keterangan kelulusan siswa/i SMPN 1 Tanjungpinang Tahun Pelajaran 2019/2020 dengan mengetikkan Nama di kolom pencarian

[table id=1 /]

REKAPITULASI :
Jumlah Peserta Laki-laki : 102 Orang
Jumlah Peserta Perempuan : 143 Orang
Jumlah Total Peserta : 245 Orang

Ditetapkan di : Tanjungpinang
Tanggal 05 Juni 2020
Kepala Sekolah

TTD

TRI ELIS SETIYOWATI, S.Pd.,M.M.
NIP. 196611301990022002

Ragam Program Tayangan “Belajar dari Rumah” di TVRI

Jakarta, Kemendikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah resmi meluncurkan program “Belajar dari Rumah” sebagai alternatif belajar di tengah pandemi virus korona (Covid-19). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim ingin memastikan bahwa dalam kondisi darurat seperti sekarang ini masyarakat terus mendapatkan kesempatan untuk melakukan pembelajaran di rumah, salah satunya melalui media televisi.

“Program Belajar dari Rumah merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa darurat Covid-19,” ujar Nadiem Anwar Makarim pada telekonferensi Peluncuran Program Belajar dari Rumah di Jakarta, pada Kamis (9/4/2020).

Selain materi pembelajaran untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga pendidikan menengah, Belajar dari Rumah juga menayangkan materi bimbingan untuk orang tua dan guru. Serta program kebudayaan di akhir pekan, yakni setiap Sabtu dan Minggu.

“Untuk sementara, program ini direncanakan akan dimulai pada Senin, 13 April 2020 dan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020,” jelas Mendikbud.

Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud) Hilmar Farid menjelaskan lebih detail mengenai program Belajar dari Rumah di Televisi Republik Indonesia (TVRI). Jadwal di hari Senin hingga Jumat digunakan untuk pembelajaran dengan total durasi tiga jam per hari untuk semua tayangan.

“Jadi masing-masing ada setengah jam. Setengah jam untuk PAUD, setengah jam untuk kelas 1 sampai kelas 3 SD, setengah jam untuk kelas 4 sampai kelas 6 SD, dan setengah jam masing-masing untuk SMP, SMA, dan parenting,” tutur Hilmar.

Hilmar juga menjelaskan, materi program diambil dari berbagai sumber. Sebagian besar materi sudah diproduksi Kemendikbud melalui Televisi Edukasi (TVE) maupun produksi dari pihak Dicontohkan sumber materi dari luar Kemendikbud, yakni Jalan Sesama untuk jenjang PAUD.

Kemudian, terkait program kebudayaan, Hilmar menjelaskan pada hari Sabtu dan Minggu, terdapat durasi tiga jam khusus untuk program-program kebudayaan, antara lain gelar wicara (talkshow), podcast, kesenian, dan magazine tentang perkembangan budaya dari seluruh Indonesia. Sedangkan pada malam hari akan ditayangkan film Indonesia pilihan dari berbagai genre seperti film anak, drama, dan dokumenter. Untuk jadwal acara program Belajar dari Rumah, masyarakat dapat melihat dan mengunduhnya di laman kemdikbud.go.id.

Ditambahkan Hilmar, Kemendikbud akan menyiapkan sekitar 720 episode untuk penayangan program Belajar dari Rumah selama 90 hari ke depan di TVRI. “Saat ini Kemendikbud sudah menyiapkan tayangan untuk dua minggu pertama, sambil memproduksi untuk tayangan di minggu-minggu berikutnya,” pungkasnya. (Anandes Langguana/Danasmoro Brahmantyo).

Kemendikbud Hadirkan Program Tayangan “Belajar dari Rumah” di TVRI

Jakarta, Kemendikbud — Mulai Senin, 13 April 2020, Televisi Republik Indonesia (TVRI) akan menayangkan program baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertajuk Belajar dari Rumah. Program tayangan ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19. Program Belajar dari Rumah di TVRI akan diisi dengan berbagai tayangan edukasi, seperti pembelajaran untuk jenjang PAUD hingga pendidikan menengah, tayangan bimbingan untuk orang tua dan guru, serta program kebudayaan di akhir pekan, yakni setiap Sabtu dan Minggu. Untuk sementara, program ini direncanakan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, meskipun Kemendikbud sudah menjalin kerja sama dengan platform teknologi atau online learning milik swasta untuk memfasilitasi siswa belajar di rumah, Kemendikbud menyadari bahwa masih banyak sekolah di daerah yang tidak memiliki akses internet, kesulitan menggunakan platform teknologi, hingga keterbatasan dana untuk kuota internet atau pulsa.

“Kemendikbud ingin memastikan bahwa dalam masa yang sangat sulit ini ada berbagai macam cara untuk mendapatkan pembelajaran dari rumah, salah satunya melalui media televisi. Karena itu kami meluncurkan program Belajar dari Rumah,” ujar Mendikbud dalam konferensi video pada Kamis, (9/4/2020).

Diharapkan, program Belajar dari Rumah ini dapat memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang memiliki keterbatasan akses internet maupun keterbatasan ekonomi. TVRI merupakan saluran gratis yang bisa dinikmati masyarakat di berbagai daerah, dan bisa dimanfaatkan oleh siswa, guru, dan orang tua untuk membantu pembelajaran dari rumah selama pandemi Covid-19.

“Ini merupakan respons cepat atas komplain masyarakat di daerah yang tidak memiliki akses internet dan masukan dari Komisi X DPR saat rapat kerja pada 27 Maret lalu. Semangat program kita tetap Merdeka Belajar,” tutur Mendikbud.

Menurutnya, konten pembelajaran dalam program Belajar dari Rumah akan fokus pada literasi, numerasi, dan penumbuhan budi pekerti atau pendidikan karakter. Kemendikbud juga akan melakukan monitoring dan evaluasi bersama lembaga pemerintah yang independen untuk mengkaji kualitas program Belajar dari Rumah, seperti mengukur apakah manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Mendikbud juga menuturkan, gotong rotong menjadi kunci dalam memfasilitasi anak bangsa untuk mendapatkan akses pendidikan. Karena itu Kemendikbud terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam hal pembelajaran, seperti membuat konten edukatif, edutainment, atau platform teknologi, baik dengan mitra yang berada di Indonesia maupun mancanegara.

Dalam konferensi video yang sama, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan lebih detail mengenai program Belajar dari Rumah di TVRI. Ia mengatakan, jadwal di hari Senin hingga Jumat digunakan untuk pembelajaran dengan total durasi tiga jam per hari untuk semua tayangan. “Jadi masing-masing ada setengah jam. Setengah jam untuk PAUD, setengah jam untuk kelas 1 sampai kelas 3 SD, setengah jam untuk kelas 4 sampai kelas 6 SD, dan setengah jam masing-masing untuk SMP, SMA, dan parenting,” tutur Hilmar. Ia menjelaskan, materi program diambil dari berbagai sumber. Sebagian besar sudah diproduksi Kemendikbud sebelumnya, seperti dari TV Edukasi atau produksi konten unit kerja lain. Ada juga sumber materi dari luar Kemendikbud, yakni Jalan Sesama untuk jenjang PAUD.

Hilmar menuturkan, pada akhir pekan, yakni pada Sabtu dan Minggu, ada durasi tiga jam khusus untuk program kebudayaan, antara lain gelar wicara (talkshow), podcast, kesenian, dan magazine tentang perkembangan budaya dari seluruh Indonesia. Kemudian di malam hari akan ada pemutaran film Indonesia dengan pilihan berbagai genre, seperti film anak, drama, dan dokumenter. Ia mengatakan, Kemendikbud akan menyiapkan 720 episode untuk penayangan program Belajar dari Rumah selama 90 hari di TVRI. Saat ini Kemendikbud sudah menyiapkan tayangan untuk dua minggu pertama, sambil memproduksi untuk tayangan di minggu-minggu berikutnya.

“Mungkin yang perlu saya tambahkan, ini semua dilakukan tanpa kita bertemu, semua dilakukan secara online. Bahan-bahan yang ada kita kumpulkan dengan cepat, lalu dijahit. Untuk minggu-minggu selanjutnya mungkin beberapa sudah bisa dimasukkan produksi baru. Kami berusaha bekerja cepat di tengah situasi ini,” ujarnya. (Desliana Maulipaksi)

Simulasi UNBK 2020 (SMP/MTs) dimulai serentak hari ini

Tanjungpinang : Sebagai salah satu kesiapan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2020, seluruh SMP/MTs negeri maupun swasta di Kota Tanjungpinang serentak melaksanakan simulasi tahap pertama UNBK pada hari ini (02/03).Simulasi  ini juga dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. 

Sebelum pelaksanaan kegiatan ini langkah yang penting disiapkan yaitu menyiapkan sumber daya komputer PC yang selanjutnya dilakukan tahap sinkronisasi dengan server pusat yang sudah dilaksanakan pada Minggu 01 Maret 2020

Pada tahun ini sebanyak 245 Siswa SMP Negeri 1 Tanjungpinang telah siap mengikuti kegiatan simulasi yang terbagi atas 3 sesi setiap hari nya yaitu hari ini, Senin 02 Maret 2020 dimulai dengan simulasi dengan Mata Pelajaran Bahasa Inggris dan besok simulasi terkahir dengan Mata Pelajaran Matematika yang masing-masing sesinya diberikan waktu 120 menit untuk pelaksanaannya.

Pada sesi 1 sebanyak 77 siswa serentak mengikuti kegiatan ini yang terbagi di  3 Laboratorium Komputer yang disiapkan, masing-masing laboratorium komputer menampung 25 Siswa di Labor 1, 25 Siswa di Labor 2 dan 27 Siswa dilabor 3.

kegiatan ini berjalan dengan lancar dan diharapkan dengan adanya pelaksanaan simulasi ini, siswa SMP/Mts pada umumnya dan SMP N 1 Tanjungpinang pada khususnya lebih siap mengikuti UNBK yang akan dilaksanakan pada akhir April mendatang dengan nilai yang memuaskan (Indra)

Apa sih AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)?

AKM dan survei karakter, terdiri dari soal-soal yang mengukur kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter. Bentuk soal AKM akan diperkenalkan kepada siswa yang mengikuti simulasi UN tahun ini, sehingga ada kemungkinan pula bentuk-bentuk soal tersebut juga akan keluar saat UN utama nantinya. Sedangkan bagi guru juga akan diperkenalkan bentuk soal AKM sebagai gambaran bagaimana mengelola proses pembelajaran kedepannya dan bagaimana melakukan penilaian dengan bentuk soal AKM.

Bentuk soal AKM yang diperkenalkan kepada guru, tidak terbatas hanya untuk guru mata pelajaran yang di UN-kan saat ini, akan tetapi untuk semua guru mata pelajaran. Artinya bentuk soal AKM merupakan bentuk soal lintas kompetensi, lintas bidang dan/atau lintas mata pelajaran. Tidak lagi membedakan mata pelajaran secara signifikan akan tetapi melihat sebuah kompetensi sebagai gambaran utuh dari puzzle berbagai mata pelajaran. Mata pelajaran yang ada akan menjadi “tools” untuk membentuk kompetensi tersebut.

Menurut Pak Menteri, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah kompetensi yang benar-benar minimum di mana kita bisa memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimum. Ini kompetensi minimum kompetensi dasar yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar apa pun materinya. Ini adalah kompetensi minimum yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar apa pun mata pelajarannya.

Selanjutnya Pak Menteri juga menjelaskan bahwa materi AKM ada dua yaitu literasi (baca-tulis) dan numerasi. “Literasi’ bukan sekadar kemampuan membaca, tapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut. Sedangkan ‘numerasi’ adalah kemampuan menganalisis menggunakan angka. Dia menekankan ‘literasi’ dan ‘numerasi’ bukan tentang mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan murid-murid menggunakan konsep itu untuk menganalisis sebuah materi. Bukan berdasarkan mata pelajaran lagi. Bukan berdasarkan penguasaan konten materi.

tahun ini AKM dan survey karakter diujicobakan, baik pada siswa maupun guru. Rencananya tahun 2021 AKM dan survey karakter sudah diterapkan sebagai pengganti UN.

Sekelumit Cerita dari rekan yg sudah mengikuti AKM guru di SMK

Setelah submit, ada perintah mulai mengerjakan soal. Tara…!!! Benar juga, redaksi soalnya panjang-panjang, bahkan ada yang sehalaman, banyak gambar, grafik, table, dan diagram. Menjawabnya pun ada yang dengan mencentang boleh lebih dari satu. Ada yang memilih salah atau benar, pilihan ganda, dan ada pula yang uraian. Untuk yang jawaban berupa uraian ini dibatasi jumlah karakternya.

Soal hanya 10 buah dengan durasi 30 menit. Tapi yaitu, kami harus membaca dan memahami stimulusnya terlebih dahulu. Terkadang harus mengulang agar lebih mengerti. Ketika menjawab pun, kami terlebih dahulu harus membandingkan, mengidentifikasi, menganalisa dan juga menyimpulkan terhadap permasalahan yang ditanyakan. Hal itu tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa, kami benar-benar harus berkonsentrasi agar bisa menalar dengan baik.

Setelah selesai, ternyata masih ada soal sesi berikutnya yaitu survey karakter. Jumlahnya 13 buah dengan durasi 30 menit. Kali ini berupa soal pilihan ganda yang berisi kasus-kasus yang redaksinya lebih pendek. Tepatnya soal-soal yang sesi dua ini mengarah pada penilaian kepribadian. Jadi kita diminta memilih alternative-alternatif jawaban yang menurut kita tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ditanyakan.

Ooo…ternyata AKM itu begini to? Menurutku sangat bagus jika siswa dibiasakan menyelesaikan soal-soal semacam ini. Soal-soal yang kontekstual, menyoal isu terkini, dan memerlukan penalaran yang tinggi. Sehingga berpikirnya pun harus secara holistik dan komprehensif. Dengan begitu, para guru juga semestinya harus membiasakan bentuk-bentuk soal tersebut dalam keseharian proses penilaian. Proses pembelajarannya pun juga harus mampu menghantarkan siswa dapat menjawab berbagai bentuk soal seperti pilihan ganda, dari yang biasa hingga yang komplek, uraian, missing word, menjodohkan, benar-salah, dan ceklist. Selain itu tugas-tugas untuk siswa berupa proyek dan portofolio juga semakin ditingkatkan

Sumber :

Budaya sebagai Penggerak Roda Ekonomi Lokal

Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, budaya bisa menjadi roda penggerak ekonomi lokal. Ia menuturkan, ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam upaya memajukan kebudayaan.


“Perlu adanya dukungan terhadap inisiatif publik dalam bentuk dana perwalian, membangun ekosistem kebudayaan dan tata kelolanya, serta membangun kesadaran publik,” ujar Mendikbud dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kebudayaan Tahun 2020 di Jakarta, Rabu (26/2/2020).


Ia mengatakan, dalam kebudayaan ada salah satu prinsip yang disampaikan oleh Bung Karno 56 tahun silam. Prinsip tersebut tergabung dalam prinsip Trisakti bersamaan dengan berdaulat secara politik dan berdikari secara ekonomi.

Menurut Mendikbud, selain sebagai penggerak roda ekonomi, kebudayaan juga bisa menjadikan putra putri Indonesia bangga dengan asal daerah mereka. Ia juga menyampaikan pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas untuk generasi selanjutnya.

“Di dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan itu ada proses pendidikan untuk generasi berikutnya. Setiap kali kita menunjukkan identitas kita, itu menciptakan penguatan karakter di anak-anak kita, di mana mereka bangga akan asal-usulnya, bangga akan identitas dia, dan bangga atas keberagaman Indonesia yang luar biasa kayanya,” kata Mendikbud.


Menurutnya, dalam hidup ini manusia tidak terlepas dengan budaya. Budaya merupakan warisan yang bernilai luhur, identitas dan ciri khas suatu bangsa. Secara tidak langsung budaya memberikan pedoman bagi manusia untuk berperilaku secara bermartabat dan bersahaja. Selain itu, katanya, pendidikan dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. “Di benak kami, pendidikan itu tidak mungkin bisa menjadi suatu hal yang efektif tanpa ada unsur budaya dan seni yang kuat. Itu sudah, bagi saya itu harga mati,” tutur Mendikbud. (Nur Yulita Ardadi/Desliana Maulipaksi)

Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan Dapat Dijadikan Media Pendampingan Psikologis dan Sosial

Sleman, Kemendikbud — Pembelajaran Matematika yang menyenangkan melalui berbagai permainan yang menarik dapat dijadikan media pemulihan trauma pada siswa. Hal itulah yang dilakukan tim dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika (PPPPTK Matematika) di SMP Negeri 1 Turi Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Setelah terjadinya insiden pada pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut beberapa waktu yang lalu, semangat para siswa perlu dibangkitkan dengan pendampingan psikologis. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di DIY mendirikan posko program pendampingan di SMPN 1 Turi Sleman untuk memberikan pendampingan psikologis. Posko ini didirikan selama seminggu mulai tanggal 24 hingga 29 Februari 2020.

PPPPTK Matematika sebagai salah satu UPT Kemendikbud DIY, ikut berpartisipasi dalam kegiatan pendampingan tersebut dengan memberikan aktivitas pembelajaran matematika yang menyenangkan. Selasa (25/2/2020). Tim PPPPTK Matematika selama satu hari mengenalkan kepada siswa mengenai pembelajaran matematika yang menyenangkan melalui permainan (games) matematika yang bersifat menghibur dan mengasah nalar siswa.


Tim PPPPTK Matematika memberikan layanan pendampingan terbagi ke dalam 8 kelas yaitu untuk siswa kelas VII dan VIII dengan masing-masing kelas terdiri dari 1 orang widyaiswara dan tim relawan dari Kementerian Sosial DIY. Selama pendampingan tersebut, siswa diajak untuk melakukan aktivitas dengan bermain menggunakan permainan matematika seperti tangram, menara hanoi, loncat katak, dan lain-lain.


Secara umum berdasarkan pengamatan selama aktivitas kegiatan tersebut, siswa mengikuti semua aktivitas dengan gembira dan antusias. Siswa kelas VIII, Amaliya Utami mengaku sangat menikmati kegiatan permainan matematika yang diikutinya. “Permainan matematika yang saya ikuti ternyata bermanfaat karena sekaligus saya bisa belajar matematika. Kegiatan ini juga membantu saya semangat lagi di sekolah,” ungkap Amaliya.


Siswa lain bernama Muhammad Surya Samudra bahkan meminta agar kegiatan serupa juga diadakan lagi karena menurutnya sangat menyenangkan dan menghibur. Surya mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan pembelajaran matematika dengan cara yang menyenangkan tetapi ada unsur belajarnya.

Setelah melakukan pendampingan, dilakukan evaluasi harian dari masing-masing tim di setiap kelas untuk melaporkan pengamatan selama aktivitas di kelas. Secara umum, di hari kedua dilaporkan siswa merasa gembira dengan kegiatan di kelas melalui permainan matematika yang menghibur dan menyenangkan. Bagi siswa yang masih merasa perlu pendampingan, diberikan pendekatan dan pendampingan serta dijadikan catatan untuk ditindaklanjuti dengan penanganan yang tepat. (Nur Widiyanto / Rina Kusumayanti)

Cegah Bertambah Punahnya Bahasa Daerah, Kemendikbud Lakukan Pelindungan Bahasa

Jakarta, Kemendikbud — Keragaman bahasa terancam karena makin banyak bahasa yang punah atau hilang. Berdasarkan data dari UNESCO dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2020, secara global 40 persen populasi di dunia tidak lagi memiliki akses ke pendidikan dalam bahasa ibu. Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan bahasa pun mengalami punahnya bahasa daerah. Untuk mencegah semakin bertambahnya bahasa daerah yang punah, pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud memiliki lima program utama pelindungan bahasa dan sastra.


Lima program utama pelindungan bahasa dan sastra tersebut adalah Pemetaan Bahasa dan Sastra; Kajian Vitalitas Bahasa dan Sastra; Konservasi Bahasa dan Sastra; Revitalisasi Bahasa dan Sastra; dan Peta dan Registrasi Bahasa dan Sastra Daring.


Kepala Badan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan Badan Bahasa, saat ini ada 11 bahasa daerah yang punah di Indonesia. Ke-11 bahasa daerah itu adalah Bahasa Tandia (Papua Barat); Bahasa Mawes (Papua); Bahasa Kajeli/Kayeli (Maluku); Bahasa Piru (Maluku);  Bahasa Moksela (Maluku); Bahasa Palumata (Maluku); Bahasa Ternateno (Maluku Utara); Bahasa Hukumina (Maluku); Bahasa Hoti (Maluku); Bahasa Serua (Maluku); dan Bahasa Nila (Maluku).

“Sebuah bahasa disebut punah, hitungannya bukan dalam sebulan atau dua bulan, melainkan puluhan tahun. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah bahasa (daerah) yang punah tidak berubah, masih tetap 11 bahasa. Tahun ini kita percepat pemetaan bahasa daerah agar selanjutnya bisa fokus ke revitalisasi,” ujar Dadang dalam Taklimat Media dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional 2020 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (21/2/2020).


Dadang menuturkan, setelah melakukan pemetaan untuk bahasa yang terancam punah, selanjutnya Badan Bahasa akan menurunkan peneliti untuk menyisir kota atau daerah yang teridentifikasi terancam punah dari ratusan bahasa daerah yang ada. “Jadi mana (bahasa) yang secara hipotesis mulai terancam dan penurunannya drastis,” tuturnya


Ia mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi hambatan dalam pemetaan dan penelitian bahasa, yaitu terbatasnya jumlah peneliti dan anggaran. “Lima provinsi yang banyak terancam punah secara geografis lokasinya sangat jauh. Selain itu (lamanya) peneliti berada di lokasi penelitian hanya bisa satu atau dua minggu,” kata Dadang.


Untuk menyiasati hambatan tersebut, langkah yang ditempuh Badan Bahasa adalah bekerja sama atau berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Badan Bahasa juga mengoptimalkan upayanya melalui unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikbud, yaitu Balai Bahasa yang tersebar di berbagai provinsi. “Kita sudah bekerja sama dengan peneliti yang divalidasi pemda setempat dan Balai Bahasa di provinsi,” ujar Dadang

Kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam upaya pelindungan bahasa tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam UU tersebut, pasal 41 menyebutkan Pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sesuai dengan perkembangan zaman. Kemudian dalam pasal 42 disebutkan, Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia


Pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional tahun 2020, UNESCO mengangkat tema “Bahasa tanpa batas”. Dalam Pengantar UNESCO untuk Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2020 disebutkan, tema ini dilandasi semangat bahwa bahasa lokal atau bahasa daerah dapat melintasi sekat-sekat yang ada untuk mempromosikan dialog damai dan membantu melestarikan warisan budaya asli. (Desliana Maulipaksi)

SMP Negeri 1 Tanjungpinang Kembali Meraih Poin Tertinggi Dalam Pentas Seni PAI

Senin, 26 Agustus 2019. Afiqah Nepa Maharani Hasibuan. Siswi SMP Negeri 1 Tanjungpinang ini berhasil mengalahkan 17 peserta lainnya dalam ajang lomba pidato pentas seni PAI. Dengan memperoleh nilai 177 Afiqah akan melaju ke tingkat Provinsi Kepulauan Riau. Disusul oleh perwakilan dari SMP Negeri 9 Tanjungpinang di posisi kedua, dan SMP Negeri 4 Tanjungpinang di posisi ketiga.
Pencapaian Afiqah ini dibina oleh Ibu Fitri Ningsih S.Pd.I selaku guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Tanjungpinang. Tak hanya Afiqah, perwakilan SMP Negeri 1 Tanjungpinang lainnya, yaitu Muhammad Mubarak Jaya berhasil menduduki posisi ke-7 dari 18 peserta.